FST Universitas Terbuka Hadirkan Dua Profesor Tottori University dalam kegiatan Visiting Professor
TANGERANG SELATAN, 19 Agustus 2026 — Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Terbuka (UT) menyelenggarakan kegiatan Visiting Professor dengan tema “Advancing Mushroom Science: From Biology, Cultivation to its Bioactive Application” pada 19 Agustus 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua akademisi dari Faculty of Agriculture, Tottori University, Jepang, yaitu Prof. Norihiro Shimomura dan Prof. Tsuyoshi Ichiyanagi.
Diselenggarakan secara hybrid dari Auditorium FST UT serta melalui platform Zoom dan YouTube, kegiatan berlangsung pukul 08.30–12.00 WIB dan terbuka untuk umum. Program ini menjadi wadah berbagi pengetahuan dan perkembangan terkini dalam ilmu jamur, mulai dari aspek biologi, teknologi budidaya, pengelolaan sumber daya genetik, hingga pemanfaatan senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh jamur.
Kegiatan diawali dengan opening remarks oleh Dr. Sitta Alief Farihati, S.Si., M.Si., Wakil Dekan bidang Akademik FST UT. Sesi ilmiah dimoderatori oleh Dr. Iwan Saskiawan, peneliti pada Research Center for Applied Microbiology, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Hikmah Zikriyani, M.Si., dosen Program Studi Biologi FST UT.
Pemaparan Ilmiah dari Dua Akademisi
Dalam paparannya, Prof. Norihiro Shimomura membahas perkembangan teknologi budidaya jamur di Jepang. Materi yang disampaikan mencakup tren industri dan produksi jamur, teknik budidaya shiitake (Lentinula edodes) dan maitake, serta pengembangan strategi budidaya jamur ektomikoriza shoro (Rhizopogon roseolus). Prof. Shimomura turut menjelaskan berbagai aspek teknis budidaya, mulai dari pemilihan substrat, proses inokulasi, pertumbuhan miselium, pengaturan kondisi lingkungan, hingga pembentukan tubuh buah. Pada pengembangan budidaya shoro, penelitian yang dipaparkan menunjukkan pentingnya pemilihan strain unggul, pemanfaatan mycelial slurry sebagai metode inokulasi, serta strategi penanaman bibit pinus secara berkelompok untuk mendukung pembentukan tubuh buah.
Sementara itu, Prof. Tsuyoshi Ichiyanagi memperkenalkan aktivitas riset Fungus/Mushroom Resource and Research Center (FMRC), Tottori University. FMRC merupakan pusat pendidikan dan penelitian yang berfokus pada ilmu sumber daya jamur, mulai dari koleksi, identifikasi, preservasi, dan penyediaan sumber daya genetik jamur hingga penelitian aplikatif untuk menemukan senyawa bioaktif. Dalam presentasinya, Prof. Ichiyanagi menjelaskan bahwa FMRC menyimpan sekitar 8.700 strain jamur, dengan ribuan strain yang telah melalui pengendalian mutu untuk mendukung kegiatan penelitian. Koleksi tersebut menjadi salah satu fondasi dalam pengembangan riset untuk mengeksplorasi potensi jamur sebagai sumber senyawa bioaktif. Riset yang dikembangkan FMRC antara lain mencakup pembuatan mushroom extract library, proses screening aktivitas biologis, isolasi dan identifikasi senyawa aktif, serta pengembangan pendekatan kimia untuk memahami dan memanfaatkan senyawa yang dihasilkan jamur. Berbagai penelitian tersebut diarahkan untuk menggali potensi aplikasi jamur di bidang farmasi, pangan fungsional, kesehatan, dan bidang terkait lainnya.
Membangun Atmosfer Akademik dan Kolaborasi Internasional
Kegiatan Visiting Professor ini juga menjadi bagian dari upaya FST UT dalam memperkuat atmosfer akademik, memperluas wawasan sivitas akademika, serta mendorong jejaring dan kolaborasi internasional dengan perguruan tinggi dan lembaga riset dunia. Kehadiran akademisi dari Tottori University diharapkan dapat membuka semakin banyak ruang diskusi dan pengembangan riset, khususnya di bidang biologi, bioteknologi, mikrobiologi, pangan, dan pemanfaatan sumber daya hayati.
Kegiatan ini ditutup dengan pemberian cinderamata kepada para narasumber dan moderator oleh Dr. Subekti Nurmawati, M.Si., Dekan FST UT. Seminar yang diselenggarakan secara gratis ini juga menyediakan e-certificate bagi peserta sesuai dengan ketentuan penyelenggara. Melalui penyelenggaraan Visiting Professor, FST UT terus berkomitmen menghadirkan forum akademik yang terbuka, relevan, dan memberikan akses kepada masyarakat luas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dari para pakar internasional.

