Dari Data ke Kata: Webinar FST UT Kupas Tuntas Evolusi Generative AI Bersama Pakar BRIN

Dari Data ke Kata: Webinar FST UT Kupas Tuntas Evolusi Generative AI Bersama Pakar BRIN

12 Maret 2026 Ditulis oleh: Mahdy Eka Putra

Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka (FST UT) kembali menghadirkan ruang diskusi akademik yang memantik wawasan melalui penyelenggaraan perdana Webinar FST UT Seri 1 Tahun 2026. Berlangsung pada Kamis, 12 Maret 2026 secara daring, acara ini mengusung tema mutakhir yang tengah menjadi perbincangan global: "Data Science to Generative AI: How Machines Understand and Generate Language".

Tidak main-main, FST UT menghadirkan pakar di bidangnya langsung dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Dr. Kokoy Siti Komariah, S.Kom., M.T., M.Eng. dari Pusat Riset Sains Data dan Informasi. Diskusi yang dipandu oleh Bapak Kani selaku moderator ini mengupas tuntas transformasi radikal komputer—dari sekadar mesin penghitung angka yang kaku, menjadi entitas luwes yang mampu memahami nuansa dan tata bahasa manusia.

Dulu, mencari sepotong informasi terasa cukup mekanis; kita mengetik kata kunci di mesin pencari dan menyisir artikel satu demi satu. "Namun hari ini, dengan hadirnya asisten cerdas berbasis Generative AI, pengalaman itu berubah total. Mesin tak ubahnya teman diskusi yang merespons pertanyaan dengan terstruktur dan terasa lebih 'sabar'," buka Bapak Kani mengawali jalannya acara.

Infografis Evolusi Kecerdasan Buatan
Infografis: Tahapan evolusi teknologi dari pemrosesan Data Science tradisional hingga terobosan arsitektur Transformer pada Generative AI.

Evolusi Sistematis di Balik Layar Kecerdasan

Dalam paparan mendalamnya, Dr. Kokoy meluruskan pandangan awam yang kerap menganggap kemampuan AI menulis esai atau membuat kode program sebagai sebuah keajaiban instan. "Ini bukan sihir, melainkan puncak dari sebuah evolusi panjang yang sangat sistematis," jelasnya.

Perjalanan ini bermula dari ranah Data Science, merangkak maju ke Machine Learning dan Deep Learning, hingga akhirnya melompat drastis dengan lahirnya arsitektur Transformer pada 2017 lewat riset monumental 'Attention is All You Need'. Dr. Kokoy menegaskan bahwa AI sama sekali tidak belajar dari ruang hampa. Kecerdasannya mutlak bergantung pada fondasi data yang dilahapnya selama proses pelatihan.

"Good AI model starts with good data."
Menurut Dr. Kokoy, tanpa data yang bersih dan representatif, mustahil sebuah mesin mampu menghasilkan keluaran yang akurat. AI adalah cerminan dari data luar biasa masif yang diproses secara terstruktur.

Harta Karun pada Data Tak Terstruktur dan Solusi Halusinasi AI

Fakta menarik mencuat di pertengahan webinar. Terungkap bahwa sekitar 80% data yang ada di dunia saat ini berwujud "tidak terstruktur", seperti teks naratif, audio, dan gambar digital. Di sinilah terobosan Natural Language Processing (NLP) memainkan peran krusial layaknya penerjemah, membuka gembok harta karun pengetahuan manusia yang selama ini berserakan di dunia maya dan tak terbaca oleh mesin konvensional.

Meski begitu, Dr. Kokoy memaparkan bahwa teknologi ini memiliki celah bernama "halusinasi"—situasi di mana AI memberikan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, namun sayangnya keliru secara fakta. Untuk mengatasinya, para periset mengembangkan teknologi Retrieval-Augmented Generation (RAG).

"Alih-alih membiarkan AI menebak-nebak, RAG memaksa mesin untuk mencari referensi dokumen eksternal yang valid sebelum menjawab," terang Dr. Kokoy. Implementasi nyata teknologi efisien ini bahkan telah diterapkan tim BRIN dalam menciptakan Chatbot Lisa untuk pendampingan pasien hemodialisis dan Chatbot Prediabet untuk manajemen gaya hidup sehat.

Konteks Lokal, Etika, dan Manusia di Balik Kemudi

Lebih dari sekadar kecanggihan teknis, webinar ini juga menyoroti urgensi pembangunan AI yang selaras dengan kearifan lokal. Mengingat mayoritas data pelatihan AI global didominasi sudut pandang budaya Barat, Dr. Kokoy menekankan pentingnya pengembangan model bahasa daerah (seperti Bugis dan Makassar) agar teknologi tak kehilangan ruh nilai-nilai Nusantara.

Hal tersebut harus berjalan beriringan dengan etika, evaluasi mitigasi bias, serta sistem pengamanan privasi data (guardrails) yang ketat. Kekhawatiran bahwa AI akan mengambil alih panggung manusia ditepis dengan lugas melalui konsep Human-in-the-loop.

Mesin ibarat mesin jet yang super cepat dalam memilah jutaan data, namun manusia tetaplah Sang Nahkoda. Kreativitas, pertimbangan moral, dan pengambilan keputusan akhir adalah hak prerogatif kemanusiaan yang tak tergeserkan. "AI yang hebat tanpa etika adalah sebuah risiko. Namun AI yang dibangun di atas fondasi etika adalah sebuah solusi," ujar Dr. Kokoy memukau para peserta.

Potret Keseruan Webinar

Diskusi yang berlangsung dinamis ini disambut dengan antusiasme tinggi dari para peserta, tergambar dari ragam pertanyaan kritis yang mengalir pada sesi tanya jawab di ruang virtual Zoom.

Tangkapan Layar Peserta
Antusiasme Sivitas Akademika
Ruang virtual dipenuhi oleh pimpinan, dosen, dan mahasiswa FST UT.
Pemaparan Dr. Kokoy
Pemaparan Dr. Kokoy
Narasumber menjelaskan arsitektur AI secara detail dan interaktif.
Penyerahan Sertifikat
Apresiasi FST UT
Penyerahan sertifikat elektronik kepada narasumber pasca sesi.

Masa Depan yang Kita Bentuk Bersama

Lewat webinar perdana ini, sivitas FST UT diingatkan kembali bahwa perjalanan inovasi dari sekadar angka logis menuju kata-kata yang bermakna adalah sebuah loncatan peradaban. Namun teknologi sejatinya tetaplah sebuah alat. Nilai luhurnya bersumber dari seberapa bijak kita mengendalikannya.

"Di era ketika mesin sudah begitu fasih merangkai jawaban semirip manusia, tantangan kita justru bergeser: Mampukah kita menggunakan teknologi ini bukan sekadar untuk mencari jalan pintas, melainkan untuk menggali pertanyaan-pertanyaan esensial demi kemajuan kemanusiaan?"

Kembali ke Halaman Utama