FST UT Gelar Webinar tentang Pengaruh Ancaman Paus Pembunuh terhadap Perilaku Paus Balin
Pada Jumat, 18 September 2026, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka (FST UT) kembali menyelenggarakan Webinar Series secara daring dengan tema “How Fear of Killer Whales Shapes Many Aspects of the Life of Baleen Whales”. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Trevor A. Branch dari University of Washington, Amerika Serikat, sebagai narasumber.
Dr. Branch merupakan guru besar di bidang Fisheries Management pada School of Aquatic and Fishery Sciences, University of Washington. Beliau aktif melakukan penelitian dan publikasi ilmiah mengenai ekologi serta dinamika populasi paus, khususnya paus biru, di berbagai wilayah perairan dunia.
Webinar yang berlangsung pukul 09.00-11.30 WIB melalui Zoom ini diawali dengan sambutan dari Dekan FST UT, Dr. Subekti Nurmawati, M.Si., serta dipandu oleh Diki, S.Si., M.Ed., Ph.D. sebagai moderator.
Paus Besar yang Tetap Diincar Predator
Webinar ini membahas perilaku dan strategi adaptasi paus balin (baleen whales) dalam menghadapi ancaman paus pembunuh (Orcinus orca). Paus balin tidak memiliki gigi, tetapi mempunyai struktur penyaring makanan yang disebut balin untuk memakan organisme kecil seperti plankton, kril, dan beberapa jenis ikan. Salah satu contohnya adalah paus biru (Balaenoptera musculus).
Meskipun bertubuh besar, paus balin tetap menghadapi ancaman pemangsaan oleh paus pembunuh, terutama terhadap anak-anak paus yang lebih rentan. Kondisi inilah yang mendorong berkembangnya berbagai strategi pertahanan.
Melawan atau Menghindar
Dr. Branch menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua strategi pertahanan paus balin dalam menghadapi paus pembunuh.
Fight (Melawan)
Diterapkan paus kelabu dan paus bungkuk melalui perlawanan fisik, seperti pukulan ekor dan gerakan tubuh. Perlawanan juga dapat melibatkan paus lain untuk melindungi anak paus.
Flight (Menghindar)
Diterapkan paus biru dan paus sirip yang bertubuh besar dan mampu berenang dengan kecepatan tinggi untuk menjaga jarak dari predator.
Perbedaan strategi tersebut menunjukkan bahwa karakteristik fisik dan perilaku setiap spesies berperan penting dalam menentukan respons terhadap ancaman pemangsaan.
Kaitannya dengan Perairan Indonesia
Dr. Branch juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan perairan Indonesia. Sebagian populasi paus biru dari perairan Australia bermigrasi ke perairan Indonesia bagian timur, kawasan yang dikaitkan dengan siklus reproduksi dan pengasuhan anak paus biru. Setelah melewati fase awal pertumbuhan, induk paus biru kembali ke perairan Australia bersama anaknya yang telah lebih besar sehingga lebih mampu menghadapi ancaman predator.
Diskusi Interaktif dan Peluang Kerja Sama
Kegiatan ini mendapat antusiasme dari sivitas akademika FST UT, baik dosen maupun mahasiswa. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, dengan banyak pertanyaan dari mahasiswa seputar perilaku, adaptasi, dan dinamika kehidupan paus dalam menghadapi predator di laut.
Selain memperluas wawasan mengenai ekologi dan perilaku mamalia laut, webinar ini juga membuka peluang penjajakan kerja sama penelitian antara Universitas Terbuka dan University of Washington pada masa mendatang. Melalui kegiatan akademik internasional seperti ini, FST UT terus memperkuat pertukaran pengetahuan, memperluas jejaring akademik global, dan mendorong pengembangan penelitian di bidang sains dan teknologi.



