Abdimas Eco Enzyme Dorong Masyarakat Desa Sukamakmur Olah Sisa Buah dan Sayur Menjadi Produk Bermanfaat

eco enzym 2

ABDIMAS ECO ENZYME DORONG MASYARAKAT DESA SUKAMAKMUR OLAH SISA BUAH DAN SAYUR MENJADI PRODUK BERMANFAAT

20 Juli 2026 Dipublish oleh: Mahdy Eka Putra

BOGOR — Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) bertema pembuatan eco enzyme diselenggarakan di Kantor Desa Sukamakmur, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, pukul 09.00–12.00 WIB. Kegiatan diikuti oleh 25 peserta yang terdiri atas kader PKK, ibu-ibu RT, dan masyarakat Desa Sukamakmur. Tidak hanya memperoleh materi, para peserta juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan eco enzyme menggunakan sisa buah dan sayuran rumah tangga.

Materi disampaikan oleh Dr. Wien Kuntari dari Sekolah Vokasi IPB. Dalam paparannya dijelaskan bahwa eco enzyme merupakan cairan alami serbaguna hasil fermentasi campuran gula, sisa buah dan sayuran, serta air dengan perbandingan 1:3:10. Pemanfaatan sisa organik tersebut menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan dari rumah untuk mengurangi sampah sekaligus menghasilkan cairan yang bermanfaat.

Peserta mendapat penjelasan mengenai kriteria bahan yang tepat. Sisa buah dan sayuran harus masih mentah, tidak kering atau keras, tidak berlemak, serta tidak busuk, berjamur, atau berulat. Molase atau gula merah dianjurkan sebagai sumber gula. Wadah fermentasi harus bersih dari sisa sabun dan bahan kimia, dapat ditutup rapat, serta memiliki ruang yang cukup untuk proses pembentukan gas.

Pemateri memberikan penjelasan mengenai pembuatan Eco Enzyme

Pada sesi praktik, peserta mempelajari tahapan pembuatan mulai dari menyiapkan air bersih, melarutkan molase, memasukkan potongan sisa buah dan sayuran, mengaduk campuran, menutup wadah, dan memberi label tanggal pembuatan. Pada minggu pertama, wadah perlu diperiksa dan gas dikeluarkan apabila wadah menggembung. Larutan diaduk pada usia satu minggu dan diperiksa kembali pada minggu ketiga. Setelah berusia 30 hari, wadah sebaiknya tidak dibuka agar fermentasi berlangsung dalam kondisi minim oksigen.

Eco enzyme dapat dipanen setelah 90 hari dengan cara disaring dan disimpan dalam wadah tertutup. Larutan yang terbentuk umumnya berwarna cokelat dengan aroma asam segar. Pada bulan pertama dapat tercium aroma alkohol, kemudian berkembang menjadi aroma menyerupai cuka setelah tiga bulan. Peserta juga dikenalkan pada perbedaan lapisan ragi yang masih dapat muncul secara normal dengan kapang berwarna hitam, hijau, atau abu-abu yang harus segera ditangani.

Kegiatan ini menekankan prinsip pemanfaatan menyeluruh. Selain cairannya, ampas hasil fermentasi dapat dimanfaatkan sebagai campuran kompos, pupuk organik yang ditanam dalam tanah atau dimasukkan ke biopori, serta bahan tambahan untuk pembuatan eco enzyme berikutnya. Dengan demikian, proses pengolahan tidak hanya mengurangi volume sisa organik, tetapi juga mendukung kebiasaan rumah tangga yang lebih sirkular dan ramah lingkungan.

Foto bersama peserta kegiatan Abdimas Eco Enzyme di Desa Sukamakmur

Antusiasme peserta terlihat selama sesi diskusi dan praktik. Para kader PKK dan ibu-ibu RT diharapkan dapat meneruskan pengetahuan tersebut kepada keluarga serta warga di lingkungannya. Melalui pendekatan yang praktis dan mudah direplikasi, kegiatan Abdimas dalam skema BIMA 2026 ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan peran masyarakat Desa Sukamakmur dalam memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan.

Kembali ke Halaman Utama

Bagikan artikel ini:

Ada Pertanyaan? Tanya Kami!
Hubungi Kami

Menu Aksesibilitas

Aktifkan Mode Suara
Atur Ukuran Teks
100%
Atur Tinggi Baris
1x
Spasi Teks
Rata Tulisan
Pertebal Huruf
Sorot Tautan
Mode Monokrom
Mode Kontras Terang
Perbesar Kursor
Animasi Dijeda
Sembunyikan Gambar

Info Cuaca

Memuat data cuaca...

Berikan Masukan untuk Website

Pilih kepuasan Anda terlebih dahulu



1. Kesesuaian informasi layanan dengan kebutuhan *

2. Kemudahan pencarian informasi *

3. Kemudahan penggunaan *

4. Tampilan antarmuka (desain dan layout halaman) *